LikeKaltara.com, BULUNGAN – Di tengah riuh percakapan publik yang sempat menyoroti dirinya karena terlihat salat sendirian di saf terakhir, sosok Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang, kembali menjadi perbincangan.
Namun kali ini, perhatian publik tertuju pada momen sederhana yang terekam dalam sebuah video amatir berdurasi 17 detik yang beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, tampak seorang pedagang kaki lima sedang sibuk mengaduk nasi goreng di atas wajan. Aktivitas berlangsung seperti biasa, hingga tanpa disadari, Gubernur Zainal berdiri tepat di belakangnya. Tanpa jarak dan tanpa sekat, ia kemudian secara santai mengambil spatula dan ikut mengaduk nasi goreng tersebut.
Aksi spontan itu sontak mencairkan suasana. Para pedagang dan warga di sekitar lokasi tampak sumringah. Senyum dan tawa pecah, mencerminkan rasa tak menyangka bisa berinteraksi langsung dengan orang nomor satu di Kalimantan Utara dalam suasana yang begitu dekat dan hangat.
Tidak terlihat pengamanan berlapis ataupun protokol kaku. Justru yang muncul adalah interaksi alami antara pemimpin dan masyarakatnya. Kehadiran Gubernur di tengah aktivitas sederhana itu menghadirkan nuansa keakraban yang jarang terlihat dalam momen-momen formal. Bagi sebagian orang, tindakan sederhana seperti mengambil spatula mungkin tampak sepele. Namun bagi warga yang menyaksikan langsung, hal itu menjadi bentuk perhatian yang tulus dan menghadirkan rasa dihargai.
Momen ini sekaligus menegaskan gaya kepemimpinan Zainal yang dikenal humanis dan membumi. Ia tidak membangun jarak dengan masyarakat, melainkan merawat kedekatan melalui interaksi-interaksi kecil yang kerap luput dari sorotan resmi.
Di kalangan masyarakat Kaltara, sosok Zainal memang dikenal sebagai pribadi yang ramah, supel, dan mudah berbaur. Ia kerap hadir di tengah masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, menjadikannya figur pemimpin yang dekat dengan rakyat.
Pendekatan yang ditunjukkan pun dinilai unik. Di tengah berbagai konsep kepemimpinan seperti hard power, soft power, maupun smart power, Zainal justru menonjolkan pendekatan personal yang lebih membumi—melalui apa yang kerap disebut sebagai pendekatan “greeting power”, “social power”, hingga “friendship power”. Gaya ini dinilai efektif dalam membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Sebuah pendekatan yang sederhana, namun kuat: menyapa, berbaur, dan hadir langsung di tengah kehidupan rakyat sehari-hari.bri_93








