LikeKaltara.com, NUNUKAN – Tokoh enam agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Nunukan menghadiri perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE yang digelar di Vihara Sasana Graha (VSG), Jalan Persemaian, Kelurahan Nunukan Tengah, Minggu (31/5/2026) malam. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Nunukan Hasan Basri serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, H. Aliansyah.
Ketua FKUB Kabupaten Nunukan, H. Hermansyah, mengatakan kehadiran para tokoh lintas agama dalam perayaan Waisak merupakan bentuk nyata penerapan kerukunan umat beragama di Kabupaten Nunukan sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan umat Buddha.
Menurutnya, kehadiran FKUB juga menjadi wujud saling menghargai dan toleransi antarumat beragama. Ia menegaskan bahwa keberagaman agama bukanlah penghalang untuk saling menghormati dan menghargai, melainkan menjadi perekat persatuan sebagaimana semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Keberagaman agama bukan penghalang untuk saling menghormati dan menghargai. Justru keberagaman menjadi perekat persatuan yang memperkuat kebersamaan masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, H. Aliansyah, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 BE kepada seluruh umat Buddha di Kabupaten Nunukan.
Ia menilai perayaan Waisak menjadi momentum penting untuk memperkuat nilai-nilai kolaborasi dalam keberagaman umat beragama. Kehadiran enam tokoh agama dalam perayaan tersebut menunjukkan kerukunan yang telah terjalin dengan baik di Kabupaten Nunukan.
“Kerukunan enam tokoh agama di Kabupaten Nunukan tercermin dengan sangat baik melalui kehadiran bersama dalam perayaan Waisak ini. Ini menunjukkan hubungan yang harmonis dan penuh toleransi antarumat beragama,” katanya.
Aliansyah juga menyoroti tema Waisak 2026 yang diusung Kementerian Agama, yakni “Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan”. Menurutnya, tema tersebut mengandung harapan agar ajaran Buddha dapat diimplementasikan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui nilai welas asih dan kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan.
“Kami berharap nilai-nilai dharma dapat diaplikasikan dengan baik sehingga semangat welas asih dan kasih sayang benar-benar hadir dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Aliansyah menyebut kehadiran para tokoh lintas agama dalam perayaan Waisak merupakan refleksi kuatnya ikatan antarumat beragama di Kabupaten Nunukan. Hal tersebut sekaligus menjadi bukti nyata implementasi program moderasi beragama yang terus digaungkan Kementerian Agama.
“Kita melihat bagaimana interaksi antartokoh agama berlangsung sangat baik. Umat dari agama lain turut diundang dan hadir bersama. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa dan menunjukkan bahwa nilai-nilai moderasi beragama benar-benar hidup di tengah masyarakat,” tuturnya.
Ia menambahkan, keharmonisan yang terjalin di Kabupaten Nunukan menjadi cerminan miniatur Indonesia yang mampu menjaga persatuan dalam keberagaman. Sebagai wilayah perbatasan yang menjadi beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Nunukan dinilai berhasil menunjukkan praktik toleransi dan kerukunan yang patut menjadi contoh.
“Miniatur Indonesia di wilayah perbatasan ini dapat terwujud dan diaplikasikan dengan sangat baik melalui kebersamaan serta saling menghormati antarumat beragama,” pungkasnya.Dkisp_268









