oleh

Bapenda Nunukan Hadirkan Seragam Batik Inklusif Karya Siswa SLB dan Penjahit Disabilitas

-Nunukan-264 Dilihat

LikeKaltara.com, NUNUKAN – Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Nunukan menghadirkan inovasi berbasis inklusi melalui penggunaan seragam batik kantor yang melibatkan penyandang disabilitas dalam proses produksinya.

Seragam batik tersebut merupakan hasil kolaborasi antara siswa-siswi Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Nunukan dan pelaku usaha lokal penyandang disabilitas, Winda Fashion. Para siswa SLB terlibat dalam proses pencetakan kain dengan mengangkat motif khas daerah Nunukan yang dipadukan dengan Lambang Korpri. Sementara proses penjahitan dipercayakan kepada Winda, pemilik Winda Fashion yang juga merupakan penyandang disabilitas.

Karya Berdaya dari Tangan-Tangan Tangguh

Pembuatan seragam batik ini tidak hanya menghasilkan pakaian untuk dikenakan jajaran pegawai Bapenda Nunukan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membuka ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dan memperoleh kesempatan ekonomi.

Dengan penuh ketelitian dan semangat, siswa-siswi SLB Negeri Nunukan menuangkan motif lokal khas daerah ke dalam kain batik. Motif tersebut kemudian dipadukan dengan Lambang Korpri sebagai simbol pengabdian aparatur negara.

Setelah proses pencetakan selesai, kain batik tersebut kemudian diserahkan kepada Winda Fashion untuk dijahit menjadi seragam kantor yang rapi dan elegan.

“Kami bangga dapat mengenakan hasil karya dari saudara-saudara kita di SLB Negeri Nunukan dan Winda Fashion. Hasil jahitan dan kualitas cetak batiknya luar biasa rapi, tidak kalah dengan produk komersial lainnya,” ungkap Kepala Bapenda Kabupaten Nunukan, Sabri, Kamis (27/8/2026).

Mendorong Kesetaraan dan Pemberdayaan

Menurut Kepala Bapenda Nunukan, Sabri, program seragam batik inklusif ini memiliki sejumlah tujuan, di antaranya memberikan kesempatan yang setara kepada penyandang disabilitas untuk berkarya dan berkontribusi secara ekonomi.

Selain itu, program tersebut menjadi bentuk pemberdayaan ekonomi lokal dengan melibatkan pelaku UMKM penyandang disabilitas sekaligus memberikan pengalaman dan ruang pengembangan keterampilan bagi siswa-siswi SLB Negeri Nunukan.

Program ini juga diharapkan dapat menghapus stigma terhadap penyandang disabilitas dengan menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menghasilkan karya yang berkualitas dan memiliki nilai estetika.

Di sisi lain, penggunaan motif batik khas Nunukan turut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal melalui karya generasi muda.

Melalui program tersebut, Bapenda Kabupaten Nunukan berharap langkah ini dapat menjadi contoh bagi instansi dan lembaga lainnya di Kabupaten Nunukan untuk terus mendorong praktik inklusif serta mendukung pemberdayaan masyarakat penyandang disabilitas secara berkelanjutan.

Program ini sekaligus menunjukkan bahwa semangat inklusivitas tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk nyata melalui pemberian ruang, kesempatan, dan apresiasi terhadap karya penyandang disabilitas.Bri_355